Cerita Joao Bosco Cabral di Persija: Ke Singapura Bersama Agus Indra Cuma untuk Membeli Sepatu

Posted on

Jakarta – Performa tanpa ada sepakat serta militan waktu menjaga penyerang musuh ala Joao Bosco Cabral pernah memberi warna perjalanan Persija Jakarta di panggung Liga Indonesia.

Saat itu, Bosco yang awalnya menguatkan Arseto Solo, Persikota Tangerang serta PSPS Pekanbaru masuk di Macan Kemayoran mendekati musim 2006-2007.

Perolehan terbaik Bosco bersama Persija ialah tembus semi-final Liga Indonesia 2007-2008. Di babak itu, Macan Kemayoran kalah 0-1 dari Sriwijaya FC di Stadion Gelanggang olahraga Bung Karno, 6 Februari 2008.

Sudah diketahui, Sriwijaya pada akhirnya meraih piala juara sesudah menekuk PSMS Medan 3-1 di laga final, 10 Februari 2008. Pada kanal YouTube Persija, Bosco akui tanding kontra Sriwijaya ialah peristiwa paling terkesan baginya.

“Materi Sriwijaya memang lebih bagus. Tetapi, kami membuat mereka kesusahan dengan permainan solid serta kompak. Mereka mujur memperoleh gol melalui Keith Kayamba Gumbs di menit ke-19,” ingat Bosco.

Cerita Joao Bosco Cabral di Persija: Ke Singapura Bersama Agus Indra Cuma untuk Membeli Sepatu

Menurut Bosco, pada musim itu, solidaritas team di Persija benar-benar aman. Demikian juga dengan suport supporter yang setia memberikan dukungan team kebangaannya.

Dengan cara spesial Bosco mengacu kesolidan beberapa pemain di tempatnya. Waktu itu, ada tiga lagi pemain yang berposisi stoper yaitu Hamka Hamzah, Leonard Tupamahu, serta Abanda Herman.

“Kami berganti-gantian tampil. Dilapangan, kami sama-sama memberikan semangat walau ada yang melakukan perbuatan salah. Baru sesudah laga, baru kami sama-sama ledek serta menilai diri,” jelas Bosco.

Saat di Persija, Bosco tetap sekamar dengan Francis Wawengkang, pemain tengah asal Manado yang pernah menguatkan timnas Indonesia.

“Enal (panggilan Francis) orangnya tidak banyak bicara. Tetapi, kadang-kadang ia memberikan nasehat saya serta memberi input buat kenaikan kekuatan saya,” kata Bosco.

Selain Enal, Bosco dekat sama Agus Indra Kurniawan, pemain tengah Persija yang dengan status pemain tim nasional Indonesia. Bersama Agus, Bosco punyai pengalaman terkesan.

Satu waktu, dia iseng ajak Agus untuk temaninya beli sepatu bola. Bukan di Jakarta tetapi di Singapura sebab sepatu yang diharapkan benar-benar susah didapat di Jakarta.

“Eh Agus sepakat. Jadi, setelah latihan di akhir pekan, kami langsung menuju ke lapangan terbang. Sesudah memperoleh sepatu yang diharapkan kami pulang ke Jakarta satu hari selanjutnya untuk kembali lagi berlatih,” tutur Bosco yang sekarang jadi pemandu wisata di Bali.

Pemain Team Sekolah

Di kesempatan itu, Bosco bercerita awal dianya jadi pemain sepak bola. Menurut Bosco di Timor Timur (sebelum jadi negara Timor Leste), sering diadakan kejuaraan antar sekolah. Kebetulan ada sosok yang selanjutnya jadi bapak angkat Bosco teratur mengawasi performanya.

“Beliau ialah Zulfikar Penting yang kebetulan ada project di Timor Timur waktu itu. Beliau yang bawa saya serta Miro Baldo Bento ke Jakarta masuk dengan Gumarang yang club internal Persija,” tutur Bosco.

Waktu itu, Bosco masih duduk dibangku kelas dua SMA.

“Dapat dipikirkan anak kampung seperti saya tiba ke Jakarta untuk pertama kali. Mujur ada Pak Zulfikar yang terus menuntun kami,” kata Bosco.

Tidak lama masuk di Gumarang, Bosco dipilih masuk team Persija U-21 dan terlihat team senior mendekati Liga Indonesia musim 1994-1995.

“Ada kebanggaan tertentu dapat satu team dengan pemain senior seperti Rahmad Darmawan, Patar Tambunan serta Maman Suryama.”

Satu musim bersama Persija, Bosco berlabuh ke Arseto Solo yang diatasi pelatih Harry Tjong. Di Arseto, kekuatan Bosco semakin bertumbuh searah dengan adanya banyak menit bermain yang dia peroleh.

“Saya berduet dengan Sudirman di tempat stoper. Di bek kanan, ada Agung Setyabudi serta Lapris AS untuk bek kiri. Waktu itu, Arseto banyak ditempati pemain muda. Saya masih 19 tahun,” papar Bosco yang menggunakan jersey dengan nomor punggung 22 saat bela Arseto.

Tidak Ingin Jadi Pelatih

Sesudah pensiun untuk pemain serta sekarang dengan status pemandu wisata, Bosco memperjelas, dianya tidak tertarik jadi pelatih.

“Saya ingin konsentrasi jadi pemandu wisata. Saya nikmati pekerjaan ini, sama dengan saat masih dengan status pemain,” jelas Bosco.

Walau demikian, Bosco akui masih ikuti perubahan sepakbola, terutamanya Persija.

“Jika ada waktu, saya tentu meluangkan diri untuk meonton. Cuma, memang kerja saya untuk pemandu wisata yang tidak mengenal waktu sering jadi masalah,” tandas Bosco.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *