Pelatih Tim nasional Indonesia U-16, Bima Sakti, mengutarakan fakta faksinya memulangkan Krisna Budi Sulistia dari pemfokusan latihan (pelatihan centre) di Bekasi. Striker berumur 14 tahun itu dipandang tidak berhasil bersatu dengan team.

Krisna Baru masuk dengan tim Tim nasional Indonesia U-16 pada Maret 2020, sesaat sebagian besar pemain yang lain sudah bersama semenjak tahun kemarin.

“Krisna Budi masih perlu menyesuaikan lagi,” kata Bima Sakti dinukil dari Di antara.

Tetapi, Krisna Budi tak perlu berkecil hati. Bima Sakti menjelaskan, si pemain masih mempunyai peluang karena umurnya masih muda.

Krisna Budi ialah pemain termuda di tim Tim nasional Indonesia U-16. Pesepak bola asal Pati, Jawa Tengah itu dilirik Bima Sakti sesudah jadi top skor Piala Soeratin U-15 2009 dengan 6 gol.

“Ia masih terbilang muda serta waktu depannya masih panjang,” tambah Bima Sakti.

Menunggu Kesembuhan Ruy Arianto

Disamping itu, Bima Sakti masih menanti pemulihan Ruy Arianto. Pemain Persebaya Surabaya ini menanggung derita luka ACL yang memaksanya masuk meja operasi.

Ruy Arianto sudah dioperasi serta tengah jalani waktu pengobatan lukanya.

Bima Sakti akan mengawasi situasi Ruy Arianto sampai dekati Piala AFC U-16 2020. Kompetisi itu akan diadakan di Bahrain pada November 2020.

“Saya mengharap demikian, Ruy Arianto bugar sebelum Piala AFC U-16 2020,” papar Bima Sakti, yang dipilih untuk pelatih Tim nasional Indonesia U-16 pada Mei 2019 itu.

Arsenal menang dengan score 2-0 atas Manchester City pada set semi-final Piala FA musim 2019/2020. Pertandingan yang diadakan di Stadion Wembley, Minggu (19/7/2020) pagi hari WIB berjalan benar-benar hebat.

Man City memimpin perebutan bola dengan 71 berbanding 29 %. Sedang Arsenal bertahan benar-benar rapat serta kadang-kadang memperlancar gempuran. Man City lakukan 16 tembakan, tapi cuma 1 yang pas target.

Arsenal melepas empat tembakan, semua pas target serta dua menghasilkan gol. Pierre-Emerick Aubameyang borong 2 gol Arsenal ke gawang Man City, di menit ke-19 serta 71.

Di set final Piala FA, Arsenal akan melawan juara tanding di antara Manchester United menantang Chelsea.

Beberapa pemain Arsenal tampil oke. Kecuali Aubameyang, ada pula David Luiz. Lalu, siapakah pemain Man City yang performnya terbenam pada tanding kesempatan ini? Baca penjelasannya berikut ini ya Bolaneters.

Bersinar – Ainsley Maitland-Niles

Tampilnya Ainsley Maitland-Niles jadi surprise itu. Karena, ia dimainkan di tempat sayap kiri pada skema 3-4-3 racikan Mikel Arteta. Tempat yang tidak umum buat pemain 22 tahun.

Dalam catatan Whoscored, ini ialah pertama kali Maitland-Niles bermain di kiri. Awalnya, ia tetap bermain disamping kanan. Baik itu untuk bek kanan, sayap kanan, sampai pemain sayap kanan.

Maitland-Niles tampil sangatlah baik walaupun bermain di tempat yang aneh. Ia cuma satu kecurian dari Riyad Mahrez yang dapat melepas shonts on sasaran. Selebihnya, ia dapat membuat pemain dari Aljazair serta Kevin De Bruyne kesusahan.

Tenggelam – Gabriel Jesus

Gabriel Jesus bermain penuh di pertandingan menantang Arsenal. Tetapi, tidak memberikan intimidasi riil buat baris belakang Arsenal. Ia tetap kalah tanding dengan David Luiz atau Mustafi yang tampil kompak di pertahanan The Gunners.

Untuk deskripsi jeleknya perform Gabriel Jesus, Whoscored menulis ia tidak melepas satu juga tembakan di pertandingan menantang Arsenal. Gabriel Jesus mendapatkan nilai 5.9 pada tanding kesempatan ini.

Lalu, kenapa Guardiola tidak menarik keluar Gabriel Jesus? Sebab Man City tidak punyai pilihan lain di baris depan. Sergio Aguero tidak masuk ke tim sebab luka. Cuma Gabriel Jesus yang ada serta ia tidak tampil maksimal.

Bersinar – David Luiz

David Luiz jadi pesakitan waktu Arsenal kalah dari Man City di minggu ke-28 Premier League. Ia membuat blunder yang menyebabkan penalti, lalu mendapatkan kartu merah. Arsenal juga kalah 3-0.

Tetapi, di pertandingan kesempatan ini, David Luiz jadi bintang buat Arsenal. Ia tidak memberikan sela buat pemain Man City untuk tembus kotak penalti.

Pemain 33 tahun itu membuat 11 sapuan, memenangi 100 % tekel serta tanding ruang. Tidak cuma itu, David Luiz lakukan dua blok penting. Perform yang pleno dari bekas pemain Chelsea itu.

Tenggelam – David Silva

Betul jika Man City tampil tanpa ada striker yang oke di pertandingan kontra Arsenal. Tetapi, janganlah lupa peranan tidak optimal David Silva untuk pemain yang seringkali masuk dalam kotak penalti.

Sebelum musuh Arsenal, pemain 34 tahun mendapatkan perform paling baik. Ia cetak 2 gol serta tiga assist dari dua pertandingan yang dimainkan dengan cara penuh. Tetapi, magic David Silva tidak terlihat di pertandingan menantang Arsenal.

David Silva cuma melepas satu tembakan serta tidak pas target. Whoscored memberikan nilai 5.9, paling jelek antara pemain lain. Sama juga dengan nilai Gabriel Jesus.

Bersinar – Aubameyang

Pierre-Emerick Aubameyang kembali lagi memperlihatkan fakta jika Arsenal patut memberikannya upah semakin besar, seperti Mesut Ozil. Karena, ia memberi apakah yang diperlukan The Gunners untuk menang yaitu cetak gol. Aubameyang tampil benar-benar medis di baris depan. Pemain dari Gabon itu cetak 2 gol dari tiga tembakan yang dilepaskan. Aubameyang serta bisa memperoleh gol ke-3nya di pertandingan ini.

Aubameyang siap kerja untuk satu team. Pada set ke-2, ia benar-benar rajin menolong pertahanan. Serta, pada beberapa peristiwa, ia ada dalam kotak penalti sendiri. Saat team merampas bola, ia secara cepat naik serta siap-siap membuat serbuan balik.

Jakarta – Performa tanpa ada sepakat serta militan waktu menjaga penyerang musuh ala Joao Bosco Cabral pernah memberi warna perjalanan Persija Jakarta di panggung Liga Indonesia.

Saat itu, Bosco yang awalnya menguatkan Arseto Solo, Persikota Tangerang serta PSPS Pekanbaru masuk di Macan Kemayoran mendekati musim 2006-2007.

Perolehan terbaik Bosco bersama Persija ialah tembus semi-final Liga Indonesia 2007-2008. Di babak itu, Macan Kemayoran kalah 0-1 dari Sriwijaya FC di Stadion Gelanggang olahraga Bung Karno, 6 Februari 2008.

Sudah diketahui, Sriwijaya pada akhirnya meraih piala juara sesudah menekuk PSMS Medan 3-1 di laga final, 10 Februari 2008. Pada kanal YouTube Persija, Bosco akui tanding kontra Sriwijaya ialah peristiwa paling terkesan baginya.

“Materi Sriwijaya memang lebih bagus. Tetapi, kami membuat mereka kesusahan dengan permainan solid serta kompak. Mereka mujur memperoleh gol melalui Keith Kayamba Gumbs di menit ke-19,” ingat Bosco.

Cerita Joao Bosco Cabral di Persija: Ke Singapura Bersama Agus Indra Cuma untuk Membeli Sepatu

Menurut Bosco, pada musim itu, solidaritas team di Persija benar-benar aman. Demikian juga dengan suport supporter yang setia memberikan dukungan team kebangaannya.

Dengan cara spesial Bosco mengacu kesolidan beberapa pemain di tempatnya. Waktu itu, ada tiga lagi pemain yang berposisi stoper yaitu Hamka Hamzah, Leonard Tupamahu, serta Abanda Herman.

“Kami berganti-gantian tampil. Dilapangan, kami sama-sama memberikan semangat walau ada yang melakukan perbuatan salah. Baru sesudah laga, baru kami sama-sama ledek serta menilai diri,” jelas Bosco.

Saat di Persija, Bosco tetap sekamar dengan Francis Wawengkang, pemain tengah asal Manado yang pernah menguatkan timnas Indonesia.

“Enal (panggilan Francis) orangnya tidak banyak bicara. Tetapi, kadang-kadang ia memberikan nasehat saya serta memberi input buat kenaikan kekuatan saya,” kata Bosco.

Selain Enal, Bosco dekat sama Agus Indra Kurniawan, pemain tengah Persija yang dengan status pemain tim nasional Indonesia. Bersama Agus, Bosco punyai pengalaman terkesan.

Satu waktu, dia iseng ajak Agus untuk temaninya beli sepatu bola. Bukan di Jakarta tetapi di Singapura sebab sepatu yang diharapkan benar-benar susah didapat di Jakarta.

“Eh Agus sepakat. Jadi, setelah latihan di akhir pekan, kami langsung menuju ke lapangan terbang. Sesudah memperoleh sepatu yang diharapkan kami pulang ke Jakarta satu hari selanjutnya untuk kembali lagi berlatih,” tutur Bosco yang sekarang jadi pemandu wisata di Bali.

Pemain Team Sekolah

Di kesempatan itu, Bosco bercerita awal dianya jadi pemain sepak bola. Menurut Bosco di Timor Timur (sebelum jadi negara Timor Leste), sering diadakan kejuaraan antar sekolah. Kebetulan ada sosok yang selanjutnya jadi bapak angkat Bosco teratur mengawasi performanya.

“Beliau ialah Zulfikar Penting yang kebetulan ada project di Timor Timur waktu itu. Beliau yang bawa saya serta Miro Baldo Bento ke Jakarta masuk dengan Gumarang yang club internal Persija,” tutur Bosco.

Waktu itu, Bosco masih duduk dibangku kelas dua SMA.

“Dapat dipikirkan anak kampung seperti saya tiba ke Jakarta untuk pertama kali. Mujur ada Pak Zulfikar yang terus menuntun kami,” kata Bosco.

Tidak lama masuk di Gumarang, Bosco dipilih masuk team Persija U-21 dan terlihat team senior mendekati Liga Indonesia musim 1994-1995.

“Ada kebanggaan tertentu dapat satu team dengan pemain senior seperti Rahmad Darmawan, Patar Tambunan serta Maman Suryama.”

Satu musim bersama Persija, Bosco berlabuh ke Arseto Solo yang diatasi pelatih Harry Tjong. Di Arseto, kekuatan Bosco semakin bertumbuh searah dengan adanya banyak menit bermain yang dia peroleh.

“Saya berduet dengan Sudirman di tempat stoper. Di bek kanan, ada Agung Setyabudi serta Lapris AS untuk bek kiri. Waktu itu, Arseto banyak ditempati pemain muda. Saya masih 19 tahun,” papar Bosco yang menggunakan jersey dengan nomor punggung 22 saat bela Arseto.

Tidak Ingin Jadi Pelatih

Sesudah pensiun untuk pemain serta sekarang dengan status pemandu wisata, Bosco memperjelas, dianya tidak tertarik jadi pelatih.

“Saya ingin konsentrasi jadi pemandu wisata. Saya nikmati pekerjaan ini, sama dengan saat masih dengan status pemain,” jelas Bosco.

Walau demikian, Bosco akui masih ikuti perubahan sepakbola, terutamanya Persija.

“Jika ada waktu, saya tentu meluangkan diri untuk meonton. Cuma, memang kerja saya untuk pemandu wisata yang tidak mengenal waktu sering jadi masalah,” tandas Bosco.

Jakarta – Pemain favorit tunggal putra, Anthony Sinisuka Ginting, meluncur ke final Mola TV PBSI Home Turnamen sesudah menaklukkan Chico Aura Dwi Wardoyo 21-12, 21-13 di Pelatnas Cipayung, Jumat (10/7/2020).

Favorit pertama itu belum mendapatkan kendala bermakna, termasuk juga dalam laga menantang Chico.

Untuk rekan satu team yang seringkali latihan bersama, Anthony telah pahami type permainan Chico. Dia melihat laga perempat final di antara Chico serta Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay untuk pelajari permainan serta taktik Chico.

“Saya melihat video laga Chico menantang Ikhsan, Chico banyak ide untuk menggempur, jadi sedapat mungkin saya menahan gerakan ia waktu ingin lakukan gempuran. Dari pertama saya terus mendesak serta menggenggam kontrol permainan,” jelas Anthony dalam wawancara setelah laga

Sebelum game ke-2 diawali, laga pernah berhenti sebab Anthony alami mimisan serta minta pertolongan dokter. Sesudah mendapatkan perawatan, Anthony mengakhiri laga secara baik.

“Sebenarnya telah merasai mimisan dari game pertama, di point 17 atau 18. Tetapi saya pikirkan tanggung, sesaat lagi ingin mulai. Jadi saya masih menjaga konsentrasi, janganlah sampai terusik. Diawalnya game ke-2 baru meminta pertolongan dokter, agar saya dapat meneruskan laga lagi,” tutur Anthony.

Walau menang dua game langsung, Anthony beri pujian permainan Chico yang dinilai punyai permainan serang yang bagus. Tetapi ada beberapa hal yang perlu dinaikkan Chico.

“Chico jika di latihan semangat, setiap program diiringi dengan optimal. Tetapi ada satu-dua point yang perlu ia lihat di atas lapangan seperti langkah main serta taktik. Kami kan telah saling tahu permainan semasing, jadi di atas lapangan harus beradu taktik, bagaimana triknya musuh tidak dapat keluarkan kelebihan ia,” papar Anthony Sinisuka Ginting.

Tantang Shesar Hiren

Anthony akan berjumpa dengan Shesar Hiren Rhustavito yang automatis meluncur ke final sesudah rivalnya di semi-final, Jonatan Christie, putuskan untuk mundur sebab alami kram.

Partai persaingan perebutan tempat ke-3 tidak dimainkan, rangking ke-3 automatis jatuh ke tangan Chico.

“Jonatan alami kram sampai satu tubuh sesudah laga tempo hari. Waktu bangun pagi hari ini keadaannya belum juga sangat mungkin untuk berlaga,” kata Kepala Bagian Pembinaan serta Prestasi PP PBSI, Susy Susanti.

“Ini jadi bahan penilaian untuk kami, tempo hari latihannya belum full. Ada deskripsi jika telah ada turnamen resmi bermakna persiapannya harus lebih bagus lagi. Memang semua tentu inginkan Jonatan versus Ginting di final, tetapi di luar sangkaan beberapa pemain pelapis memberi perlawanan,” lanjut Susy.

Jonatan melalui laga panjang di perempat final menantang Karono. Laga dimenangi Jonatan dengan score akhir 21-18, 18-21, 21-16 dalam tempo 80 menit. Saat pagi harinya, Jonatan harus juga berlaga sengit di laga penyisihan group H menantang Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay dengan score 18-21, 21-10, 21-16 dalam tempo 71 menit.

“Di satu bagian ini bagus sebab pemain pelapis ingin menunjukkan mereka dapat memberi perlawanan. Tetapi di lain sisi, beberapa senior harus kerja keras di turnamen ini,” tambah Susy.

Sumber: PBSI